Ya Allah, Kapan Jodohku Datang?

Bookmark and Share
"Ya Allah, kapan jodohku datang?" ucapnya lirih dihari-harinya terasa kelabu. ketika hari diharapkan menyenangkan ternyata tak kunjung menghilangkan rasa gelisah dibilik hatinya. Gelisah pada umur yang mengejarnya, sementara pendamping hidup tak kunjung tiba. Setiap kali suara ibunya yang lembut mampu menyayat hatinya disaat bertanya, "Mbak, kapan ibu bisa menimang cucu?" "Insya Allah Bu.." dijawabnya dengan cucuran air mata. Bahkan salah seorang teman kerjanya selalu memprovokasi tak pernah dihiraukan, "Ubah dong penampilannya pakai roknya yang warna cerah, masa baju komprang, kedodoran, warna kusam, nggak ngetrend." Keyakinannya bahwa wanita yang baik untuk laki-laki yang baik, akan datang laki-laki baik yang menerima dirinya apa adanya.

Disaat lelah dan letihnya kehidupan, kebahagiaan itu ditemukan disaat mampir untuk melepaskan dahaga di Rumah Amalia, bersama seorang temannya siang itu di Rumah Amalia berkumpul dengan anak-anak Amalia, rasanya ikut berlari-larian. Tanpa terasa air matanya mengalir begitu banyak anugerah Allah yang telah diterimanya namun lupa mensyukurinya. Pekerjaan, masih punya orang tua yang menyayangi dirinya. Dengan berbagi kebahagiaan untuk anak-anak di Rumah Amalia merupakan tanda syukur atas semua nikmat karunia Allah. Sampai waktu berlalu, sepulang dari kantor ditempat kos sudah menunggu seorang teman lama. "Mbak, sudah lama menunggu?" Tangannya tergopoh-gopoh mengeluarkan kunci kamar, wajahnya tersenyum manis. "Sudah dek, setengah jam yang lalu." ucapnya. Tanpa menunggu basa basi, temannya itu mengatakan bila adik laki-lakinya ingin ta'aruf. Diperlihatkan poto sang adik, hatinya berdesir. "Masya Allah, wajahnya bening memancarkan keshalehan, ucapnya dalam hati. "Mbak, apa aku pantas untuk adiknya Mbak?" tanyanya ragu."Insya Allah, seperti yang kamu bilang wanita yang baik untuk laki-laki yang baik." jawabnya membuat dirinya tersipu-sipu malu. Malam hari, sesaat temannya sudah pulang. Hatinya bergetar ketika membaca SMS, "Assalamu'alaikum Ukhti, Minggu depan izinkan saya bersama kedua orang tua dan keluarga besar kami datang ke rumah orang tua ukhti untuk melamar. Wassalamu'alaikum, Akhifillah." Tetes air matanya tak terbendung lagi, Allah menjawab doanya dengan mengirimkan pendamping hidup untuknya. Ternyata tak ada yang sia-sia atas kesabaran dan doanya selama ini. Subhanallah.

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar